Posted by: mrkamal on: Februari 27, 2009
SERI LEADERSHIP: MEMBANGUN PRIBADI EFEKTIF
(oleh: Mustofa Kamal Machfoedz)
Tulisan ini adalah seri pertama dari beberapa seri tentang kepemimpinan (leadership). Saya menulis topik ini dalam rangka berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada semua pembaca, dengan harapan dapat memberi nilai manfaat bagi kehidupan semesta.
I. INTEGRITAS KEPEMIMPINAN
1. Kepemimpinan yang didasarkan atas kekuatan berpikir dan kekuatan moral (akhlak) serta kebiasaan produktif, maka dia adalah pemimpin yang punya integritas.
2. Membangun integritas kepemimpinan dimulai dari diri sendiri. Pemimpin yang konsisten menunjukkan keteladanan dalam mempengaruhi orang lain berarti memberikan daya dorong untuk memotivasi dirinya dalam membangun integritas. Hal ini secara tidak langsung juga mendorong orang lain untuk menumbuh kembangkan integritas.
3. Prinsip menumbuh-kembangkan integritas dapat dilakukan melalui: pertama, menumbuh-kembangkan kepercayaan dan keyakinan dalam mengubah kesadaran inderawi ke tingkat yang lebih baik; kedua, saling menghormati dan menghargai orang lain; dan ketiga, memiliki kemampuan dalam kedewasaan rohani, sosial,, emosional, dan intelektual.
II. MEMBANGUN PRIBADI EFEKTIF
Pemimpin yang efektif adalah seorang pribadi yang efektif. Maka itu, betapa pentingnya membangun pribadi yang fektif untuk menciptakan kepemimpinan yang efektif. Dalam membangun pribadi efektif, diperlukan pondasi mindset yang mendukung terbentuknya pribadi efektif. Mindset tersebut mencakup:
2. Kita meyakini bahwa hidup ini indah (life is beautiful). Mari kita lihat firman Allah SWT yang menyatakan: “Dan di bumi itu terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang hendak yakin, dan demikian juga dalam diri kamu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS adz-Dzariyat: 20-21). Maka itu apabila kita mau mencermati kehidupan ini, begitu banyak tanda-tanda dan dinamika kehidupan, yang kita harus mampu mengekstrasi menjadi sekumpulan sintesis keindahan. Hanya orang-orang yang berpikiran dan berhati indah yang mampu mengelola kehidupan secara baik dan harmonis bersama keindahan semesta.
3. Kita meyakini bahwa kebersamaan itu penuh makna (togetherness is meaningful). Pandangan ini didasari oleh firman Allah SWT: “Hai manusia, sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS al Hujurat: 13).
III. MENJADI PRIBADI SUKSES
Apa yang dimaksud pribadi sukses? Seseorang dapat dikatakan menjadi pribadi sukses apabila dia selalu merasa tenteram dan bahagia. Ini didasarkan pada firman Allah berikut: “Orang-orang yang beriman dan mendapatkan ketentraman hati mereka dengan mengingat Allah, dan ketahuilah (bahwa) dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram” (QS ar-Ra’du: 28).
Oleh karena itu, pada hakekatnya hanya dirinya sendirilah yang mengetahui apakah dia sudah sukses atau belum dalam proses hidupnya. Orang lain hanya melihat dan merasakan kesuksesan seseorang dari vibrasi yang dia tebarkan kepada komunitas di sekitarnya. Jadi bersifat relatif. Yang bisa dilihat komunitas tentang kesuksesan seseorang melalui beberapa indikator visual, seperti: kepemilikan harta benda, kebugaran fisik dan nuraninya, dan cakupan peran dalam komunitasnya.
IV. MEMBANGUN PRIBADI EFEKTIF MENJADI PRIBADI SUKSES
Ada tiga tahapan untuk membangun pribadi efektif menjadi pribadi sukses, yaitu: (1) tahap persiapan, (2) tahap pembekalan, dan (3) tahap keberangkatan.
Dalam tahap persiapan, kita perlu memahami peringkat posisi mental spiritual kita saat ini. Ada empat peringkat kesiapan mental spiritual seseorang dalam kehidupan, terdiri atas: dependensi, independensi, interdependensi, dan berserah diri kepada sang Pencipta kehidupan (Allah).
Dalam tahap pembekalan, kita perlu membekali diri kita dengan berbagai perangkat seperti: pengetahuan, keterampilan, kemauan kuat, dan iman serta pikir.
Dalam tahap keberangkatan, kita harus memiliki tiga prinsip utama dalam diri kita, yaitu: prinsip kejujuran, prinsip keseimbangan harapan, dan prinsip penanaman nilai-nilai yang benar.
Kita renungkan kalimat bijak berikut:
Generasi muda kami dibentuk dari apa yang telah dilatih oleh orang tuanya…..
Dan tidaklah seorang pemuda terbiasa dengan pikiran positif, kecuali karena itu telah diajarkan orang terdekatnya…..
Biasakanlah dirimu dengan kebaikan karena sesungguhnya kebaikan itu adalah suatu kebiasaan
Wahai sahabat! Kendaraan ini berlari begitu kencangnya…
Dan kami telah duduk, lalu apa yg telah engkau perbuat…
Apakah engkau rela tertinggal di belakang mereka tanpa harapan sementara beban semakin berat…
Maret 3, 2009 pada 3:38 am
TOP artikelnya pak !